Perang Bosnia dan tragedi kemanusiaan umat Islam.

Moslems daily, Sejarah Perang Bosnia - Generasi milenial saat ini hanya akan melihat tragedi kemanusiaan dan keadaan masyarakat palestina yang di tindas oleh Israel, Atau bagaimana suku rohingya yang harus terusir dari tanah mereka yang berada dibawah dominasi myanmar serta suku uighur yang ditekan otoritas tiongkok. Namun ada banyak kejadian memilukan yang di alami oleh umat islam di belahan bumi lainnya.


Sejak runtuhnya kesultanan turki utsmaniyah, Umat islam hampir diseluruh penjuru dunia mengalami tekanan demi tekanan, Serta intimidasi yang diluar batas kemanusiaan.


Seperti beberapa kelompok masyarakat yang saya sebutkan diatas, Perang bosnia yang terjadi pada dekade 1990 an merupakan juga sebuah tragedi kemanusiaan paling kejam yang dialami oleh ummat islam Bosnia.

Perang Bosnia adalah sebuah konflik bersenjata internasional yang terjadi pada Maret 1992 dan November 1995. Perang ini melibatkan beberapa pihak. Konflik ini melibatkan Bosnia dan Republik Federal Yugoslavia yang kemudian berganti nama menjadi Serbia dan Montenegro begitu pula Kroasia.

Sejak berdiri pada 1945, Yugoslavia merupakan gabungan dari enam republik, yakni Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia.

Sepeninggalan tokoh pemersatu Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada 4 Mei 1980, stabilitas politik di sana sulit terjaga. Kekacauan ekonomi pun membayang.

Disintegrasi Yugoslavia secara resmi terjadi pada Selasa pagi, 23 Januari 1990, ketika Liga Komunis Yugoslavia bubar. Tiap republik pun dapat mengklaim kedaulatan masing-masing.

Bosnia-Herzegovina pada saat itu merupakan wilayah yang cukup bineka dibandingkan dengan republik-republik lain dalam federasi Yugoslavia. Masyarakatnya terdiri atas tiga etnis dominan, yakni Bosniak (Muslim), Serbia (Kristen Ortodoks), dan Kroasia (Katolik).


Demokrasi pun agaknya berjalan di negeri itu pasca bubarnya Liga Komunis Yugoslavia. Alija Izetbegovicdari Partai Aksi Demokratik (SDA) menjadi presiden Bosnia-Herzegovina pada November 1990.

Dalam sebuah kesempatan, presiden Serbia Slobodan Milošević dan tokoh nasionalis Kroasia Franjo Tuđman mengadakan pertemuan rahasia. Keduanya hendak memuluskan rencana untuk menyerang Bosnia-Herzegovina serta membagi-bagi wilayah tersebut.

Mereka menganggap Bosnia sebagai musuh bersama. Hal ini sejalan dengan seruan kaum separatis Serbia dan Kroasia di wilayah Bosnia-Herzegovina sendiri. Masing-masing etnis itu menghendaki pembentukan wilayah otonom sejak Desember 1991.

Pada 6 April 1992, komunitas Eropa mengakui kedaulatan negara Bosnia-Herzegovina. Namun, kabar gembira ini segera disusul insiden berdarah.

Satu hari setelahnya, aksi damai di Sarajevo dibubarkan tentara etnis Serbia dengan rentetan peluru. Tentara etnis Bosniak yang dibantu etnis Kroasia berupaya menumpas serangan ini. Namun, situasi akhirnya berbalik. Tentara Bosniak justru mesti bertempur melawan tentara Serbia plus tentara Kroasia.

Pada 2 Mei 1992, Jenderal Ratko Mladic memimpin tentara Serbia untuk mengepung ibu kota Bosnia-Herzegovina, Sarajevo. Empat tahun lamanya pasukan itu memutus akses lalu lintas, listrik, dan air bersih di kota ini.

Dampaknya, penduduk Bosnia terkepung dalam bayang-bayang kelaparan dan ketakutan. Pasukan Mladic terus memborbardir Sarajevo sehingga menewaskan ribuan orang Bosnia.

Sementara itu, Mate Boban tampil membentuk faksi militer Kroasia (HVO) di Bosnia-Herzegovina. Dia didukung sepenuhnya oleh Tuđman, yang sedari awal ingin mencaplok wilayah negara ini.

Pertempuran brutal berlangsung khususnya dalam merebut pusat Herzegovina, Mostar. Stari Most, jembatan bersejarah yang dibangun sejak abad ke-16, ikut dihancurkan tentara Kroasia dalam kejadian ini.


Selain itu, mereka juga menghancurkan setiap masjid yang dijumpai. Daniel F Cetenich dalam tesisnya untuk San Francisco State University (2002) menyebutkan, tidak kurang dari 1.400 unit masjid dihancurkan tentara Serbia dan Kroasia ketika Perang Bosnia berlangsung.

Comments